Manusia, menjadi tercerahkan, melalui proses yang panjang.
Tidak ada sistem sim salabim sehingga seseorang bisa mendadak menjadi matang
Semua, tetap ada prosesnya. Tetap melewati petualangan jatuh bangun kesadaran yang panjang.
Pada mulanya,
Manusia terlahir dalam keadaan lugu.
Kemudian orang tua dan lingkungannya, menyuntikkan agama pada diri mereka.
Tanpa mereka pernah bisa memilih bahkan tidak tahu apa-apa dengan indoktrinasi tersebut.
Maka sejak saat itulah, proses pembodohan berlangsung dalam diri manusia.
Maka perjalanan panjang manusia selanjutnya,
Adalah proses menuju kembali ke titik nol seperti sebelum orang tua mereka menyuntikan agama ke dalam kesadaran mereka. Dan itu, sangat tidak mudah. Hanya sedikit manusia yang berhasil melakukannya.
Lalu bagaimana prosesnya sehingga akhirnya manusia bisa berhasil?
Berikut lebih kurang tahap tahap yang lazim dilalui oleh rata rata manusia:
Fase Pertama,
Setelah manusia mulai berpikir
Mereka bertanya, sebenarnya apa agama yang paling benar diantara agama yang ada?
Ini fase yang paling bawah.
Manusia, mencari kebenaran yang paling tak tak terbantah.
Tapi dengan cara, tetap ingin memilih diantara agama yang ada.
Fase Kedua,
Setelah berpetualang sekian lama dengan pertanyaan ini,
Akhirnya manusia mulai sadar, bahwa ternyata, apapun agamanya, prinsipnya sama.
Sama sama sebuah mitos dan tahyul yang dianggap sebagai kebenaran.
Maka pertanyaannya meningkat menjadi:
Apakah pentingnya manusia untuk beragama?
Tidak dibedakan lagi agamanya apa
Intinya, apakah beragama itu penting?
Fase Ketiga,
Jika mereka berani melanjutkan pertanyaan kedua diatas, tanpa ragu ragu,
Maka akhirnya mereka akan sampai pada kesimpulan,
Ternyata, beragama itu sama dengan hobi dan kecanduan narkoba.
Agama bukanlah sebuah Kebenaran.
Melainkan hanya sebuah tradisi, sebuah kebiasaan yang dibesar-besarkan.
Manfaatnya, hanya tergantung pada anggapan.
Hanya dianggap bermanfaat.
Manusia menemukan fakta bahwa tanpa beragama pun,
Manusia biasa biasa saja.
Kuncinya adalah pada kemampuan manusia dalam menata hati dan pikirannya
Lalu hidup selaras dengan hukum alam.
Fase Keempat,
Pada fase ini, persoalan agama sudah tamat pada diri manusia.
Yang mereka pikirkan, adalah bagaimana caranya hidup mereka lebih berdaya. Lebih produktif dan lebih kreatif. Agar hidupnya, terasa lebih nikmat dan lebih indah. Sedang soal soal yang berhubungan dengan khayalan tingkat tinggi seperti kesadaran umat beragama, sudah tak terbetik lagi dalam kesadaran mereka. Mereka, akhirnya berhasil menjadi manusia yang realistis. Mereka, benar benar hidup di bumi. Sekujur kesadarannya, sudah benar benar terarah pada kenyataan kongkrit. Segala angan angan utopis, sudah terkapar jadi mayat di kaki nalarnya: "Agama? Busyet untuk apa!"
Revo Samantha
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar