Senin, 03 Juni 2013

Sikap Saya terhadap Negativitas Umat Buddha terhadap Siddharta

Agama Buddha, bagi saya berbeda dengan Siddharta
Agama Buddha, adalah pelembagaan renungan Siddharta menjadi sebuah ritualitas
Sedang Siddharta, adalah sebuah pribadi.
Sebuah persona yang mandiri dari segala klaim agama yang disematkan padanya kemudian
Dia, adalah seorang gelandangan kearifan dari Abad Silam
Yang kata-katanya, bisa membuat sebuah hiruk pikuk debat metafisik terdiam

Saya sadar,
Nama Siddharta tak seharum apresiasi saya bagi penyembah Buddha
Tentu saja.
Karena yang mereka lihat, hanya bungkus para Buddhis yang mabuk kearifan
Para Buddhis Botak yang puber meditasi
Singkatnya, mereka peduli hanya pada riak-riak ritual Buddhis di permukaan
Sedang Ffilsafat Hening Siddharta, tak mereka selami

Tapi saya maklum
Agama, di tangan rakyat memang kapas putih yang berbahaya
Adalah hakim moral yang mengerikan

Begitulah nasib Siddharta
Kehadiran agama Buddha, telah melucuti kedalaman renungan spiritualnya
Telah mendistorsi filsafat diamnya menjadi sebuah hiruk pikuk baru: Gila kearifan!

Sedang Siddharta
Tak pernah menamai intisari segala sesuatu
Apalagi terhadap ajarannya
Itu sebabnya, manusia dengan berbagai latar, bahkan dengan latar agama apapun
Bisa menjadi seorang Buddhis sejati.
Karena hakikat kebuddhaan, bukanlah sebuah nama dan julukan
Tapi adalah sebuah kedalaman sikap bersahaja tanpa istilah
Sebuah telaga bathin setelah melintasi segala bungkus hiruk pikuk


Revo Sanjaya




Tidak ada komentar:

Posting Komentar