Sebelumnya
Benar-benar hal ini tidak pernah saya pikirkan.
Karena pekerjaan menjual diri ini saya yakini sebagai sebuah dosa yang sangat terkutuk
Tapi entah kenapa kemudian, semua terjadi seakan diluar kesadaran saya.
Pada mulanya,
Saya dalam kesulitan ekonomi.
Hutang demi hutang terus melaju dengan kencang
Sementara pemasukan, nyaris minus.
Hingga suatu kali:
“Mama, Papa pergi ya malam ini.”
“Kemana Pa?”
“Kemana saja Ma, asal bisa mendapatkan uang.”
“Iya Pa, hati hati ya. Jangan sampai pusing lagi di jalan.
Pokoknya meski pikiran kalut, Papa jangan sampai lepas kendali”
“Iya Ma, Papa pergi ya.”
Saat itu yang terbayang dalam pikiran saya hanya uang.
Satu demi satu nama orang-orang yang saya kenal hanya lewat begitu saja.
Tak satupun yang terbayang oleh saya tempat yang tepat untuk berkeluh kesah.
Padahal saya sudah menghabiskan rokok setengah bungkus
Dan kaki ini sudah jauh melangkah walau entah kemana ....
Tanpa sengaja kemudian,
Tiba-tiba nama Novita hinggap dalam lamunan saya
Dia, teman lama yang sangat simpati
Bersamanya, seakan cuaca selalu cerah tanpa mendung
Saat itulah sekonyong-konyong saya ingin berlari menemuinya
Untuk bisa tumpahkan segala keluh kesah,
Setidaknya, untuk sekedar melepaskan tegangan bathin
Karena konflik uang yang berkepanjangan
Yang semakin hari semaki terasa membelunggu,
Dari hari kehari dari waktu ke waktu ....
Tak sadar kemudian, refleks saya menelpon Novita:
“Oh Revo? Tumben kamu mengingat saya?”
“Maaf Novita. Saya lagi sedih Novita.
Saya yakin hanya kamu yang bisa membantu”
“Lho apa yang terjadi Revo?”
“Itulah Novita. Panjang ceritanya.”
“Ya Revo sudah. Bagusnya kesini saja. Apa perlu saya jemput?
Kamu ada dimana sekarang?”
“Saya di Jalan Sudirman Novita.”
“Bawa motor atau kenderaan gitu?”
“Tidak Novita. Motor saya sudah lama tinggal di bengkel”
“Hmm ... kalau begitu aku jemput saja ya?”
“Terima kasih Novita, saya jadi menyusahkan kamu”
“Ah Revo masak bicaranya seakan menghadapi orang lain saja”
***
“Wuaah ... kamu benar-benar sukses ya Novita.
Rumahmu terlalu mewah Novita.
Oya maaf ya, apa kamu masih tinggal sendiri disini?”
“Sssttt ....”
Novita menempelkan telunjuknya ke bibir saya
Saya terkejut. Dada saya tiba-tiba berguncang.
“Jadi masalah kamu apa sebenarnya Revo?”
“Ya ... anu Novita .. e ..”
“Ah Revo kok pakai malu malu segala.
Memangnya yang akan mendengarkanmu ini siapa?
Atau kamu merasa sudah tidak berteman lagi dengan saya?”
“Bukan begitu Novita ... “
“Dengar Revo! ....”
Tangan Novita menarik lengan saya
“Saya masih seperti yang dulu. Teman setiamu Revo.
Masalahmu, adalah masalahku juga.
Ayo katakan, jangan sungkan-sungkan”
“Saya kesulitan uang Novita”
“Oh ... itu masalahnya rupanya. Revo ...”
Tangan Novita memutar pipi saya ...
“Apa artinya ada saya Revo. Berapa uang yang kamu butuhkan?”
“Maaf Novita. Saya tidak bermaksud ...”
“Ssst ...” Novita menempelkan telunjuknya ke bibir saya
“Katakan berapa uang yang kamu perlukan saat ini.
Bilang saja Revo jangan sungkan”
------------------------------------------
*) Pembaca berhak untuk melanjutkan kisah ini sendiri-sendiri
Revo Sanjaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar