Rabu, 03 Juli 2013

Sebab Saya Senang Terjadi Gempa dan Tsunami Aceh

Memperdebatkan gempa atau tsunami Aceh dalam kaitannya tentang Tuhan, hanya sebuah kesia-siaan. Itu hanya olah raga perang mulut. Karena tsunami, adalah peristiwa alam. Adalah aksi reaksi antar komponen alam. Adalah perkelahian antara sebuah kompenen dengan komponen lain di perut bumi.

Jadi apakah gempa dan tsunami Aceh sebagai kutukan Tuhan, atau sebagai bukti bahwa Tuhan memang ada, hanya sebuah hoax yang dibesar-besarkan seolah-olah nyata. Begitu juga sebaliknya, bahwa tetap hancurnya banyak rumah ibadah (mesjid) dan orang-orang beriman (Islam) di Aceh karena tsunami, bukanlah bukti bahwa Tuhan itu tidak ada.

Singkatnya, keduanya hanya omong kosong yang memenuhi space hosting pertengkaran yang tidak ada gunanya. Tuhan, tetaplah sebuah X yang tak bisa dibuktikan. Baik adanya maupun ketidakadaannya. Karena Tuhan, hanya sebuah metafor untuk merujuk sebuah angan-angan imajiner.

Kajian yang bermanfaat saat terjadinya tsunami menurut saya adalah,

Bagaimana caranya mengirimkan bantuan sebanyak-banyaknya.
Kemudian melakukan bimbingan terapi secara kejiawaan kepada korban yang masih hidup,
Bahwa terjadinya sebuah bencana, tidak perlu harus ditangisi hingga merusak diri berkepanjangan. Karena toh, sampai pada waktunya, semua akan hancur lebur juga. Karena bumi yang dihuni manusia, adalah sebuah sorga dalam bahaya berkepanjangan. Dan itu, sudah naturnya Alam Semesta. Ada aksi reaksi yang tak pernah usai. Ada lahir ada mati yang selalu berputar pada dirinya sendiri.

Dan terakhir, yang paling menarik, adalah bagaimana caranya bersahabat dengan tsunami, adalah bagaimana caranya secara teknologi agar tsunami tidak hanya menjadi monster horor yang memporak-porandakan wajah bumi. Tapi mengubahnya menjadi sebuah energi yang bermanfaat. Misalnya membuat mesin Pembangkit Listrik Tenaga Tsunami. Tanpa ada kerusakan alam apalagi kematian orang-orang, pacar dan para selingkuhan yang kita cintai. Tentang bagaimana cara membuatnya, itu bukan tugas saya. Tugas saya hanya menulis.
Paham?

Revo Sanjaya


Tidak ada komentar:

Posting Komentar