Minggu, 07 Juli 2013

Sebenarnya Kebenaran Itu Tidak Ada!

Baiklah, jika anda belum bisa melepaskan kosa kata Kebenaran,
maka mari kita gunakan juga pada tulisan ini.

Secara kasar, bagi saya ada 3 jenis Kebenaran:


Pertama Kebenaran Empiris:

Yaitu kebenaran yang sama-sama disaksikan manusia secara objektif.
Bukan hanya pendapat. Apalagi jika hanya berdasarkan perasaan.
Tapi telah teruji secara kongkrit.
Inilah kebenaran versi Ilmu Alam.

Contoh:
Tidak ada diantara manusia yang normal penglohatannya akan mengatakan bahwa matahari itu tidak ada.
Karena toh semuanya sudah sama-sama menyaksikannya secara kongkrit.

Kedua Kebenaran Psikologis

Yaitu segala sesuatu menjadi benar bila anda anggap atau yakini sebagai benar. Walaupun anda tidak bisa membuktikannya bahkan tidak ada celah untuk membuktikannya. Tapi karena anda sudah meyakininya sebagai benar, maka benarlah hal tersebut bagi anda. Inilah kebenaran versi Agama.

Contoh:
Alam ini diciptakan oleh Tuhan.
Tapi siapa itu Tuhan?
Dan kapan Tuhan pernah disaksikan sedang membuat Alam?
Pertanyaan ini tidak pernah dibuktikan
Tapi langsung diyakini memang begitu adanya.



Ketiga Kebenaran Abstrak-Logis

Ini adalah dunia ide-ide. Dunia gagasan.
Kebenarannya, tergantung dari proposisi-proposisi yang dibangun. Tergantung asumsi-asumsi yang ditetapakan. Tergantung pada postulasi yang digariskan. Tergantung dari relasi antar gagasan yang dihubung-hubungkan.

Sebagai contoh, mari kita cermati rumus dibawah ini:
Jika A + B = C, maka A dan B jelas lebih kecil dari C. Begitu juga sebaliknya, C jelas lebih besar dari A dan B. Tapi jangan lupa. C disebut besar bukan bersifat Absolut. Karena tergantung posisi yang ditetapkan pada dirinya. Misalnya rumus diatas dirombak posisinya menjadi: C + B = A. Maka pada rumus ini jelas C sudah menjadi kecil dari A. Berbeda dari rumus yang pertama bukan?

Jika dalam bentuk gagasan, bisa dicontohkan begini:
Jika Tuhan adalah sesuatu yang hidup
Maka tidak mungkin Tuhan tidak ikut campur dalam proses alam dan kehidupan.
Dia tetap hadir mempengaruhi segala sesuatu.

Maka kalimat terakhir pada contoh diatas bukanlah sesuatu yang mutlak.
Karena kebenarannya tergantung pada kalimat awal.
Itulah yang disebut dengan premis.
Sedang premis, bisa dibangun secara arbitrer,
Bisa ditetapkan secara sewenang-wenang oleh siapa yang membangunnya.

Nah begitulah kebenaran versi abstraksi pemikiran. Kebenaran versi logika.
Semua bisa dianggap benar atau salah, tergantung bangunan pemikiran yang membentuknya.

Bingung?
Baru segini anda sudah pusing.
Bagaimana anda bisa berkelana di samudera gagasan?
Makanya belajar berpikir dalam arti sebenarnya.
Jangan cuma bisa gosip dan mengamuk.

Revo Sanjaya


Tidak ada komentar:

Posting Komentar